ACEH TAMIANG, WH – Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis jejak masa lalu, sekelompok anak daerah, pegiat budaya, tokoh masyarakat, pemuda, dan awak media, pecinta sejarah berkumpul dengan satu tekad yang sama: menyelamatkan memori Kota Tua Kualasimpang sebelum terlupakan oleh zaman.
Dari pertemuan sederhana di Mabes Caffee, Kotalintang, Kota Kualasimpang, Sabtu, ( 27/7/2026), diskusi berlangsung penuh semangat sehingga yang kemudian lahirlah ide pembentukan Komunitas Napak Tilas Kota Tua Kualasimpang, yang terdiri dari Mustafa asal Budar, Amnur Dani asal Kotalintang, Juli Ardana asal Rantau, Saut Simanjuntak asal Kebun Tanah Terban, Eko Waluya, asal Kotalintang, Juliadi asal Sungailiput, Fori Zalmi asal Sriwijaya, Lili Suhemi dari Tanjung Mancang, M. Aulia dari Kotalintang, Rahmansyah asal Kotalintang rencana membentuk sebuah wadah yang didedikasikan untuk menggali, mendokumentasikan, menjaga, dan memperkenalkan kembali sejarah panjang Kota Kualasimpang kepada generasi masa kini dan masa depan.
Momen berdirinya komunitas ini bukan sekadar pembentukan organisasi biasa. Ia lahir dari kegelisahan bersama ketika melihat banyak bangunan tua, cerita rakyat, dan jejak sejarah yang perlahan memudar tanpa dokumentasi yang memadai.
“Kita tidak ingin anak cucu kita hanya mendengar cerita bahwa Kualasimpang pernah menjadi kota bersejarah. Kita ingin mereka melihat, memahami, dan merasakan langsung jejak sejarah itu,” ujar Amnur Dani penggagas komunitas dengan penuh haru.
Kota Kualasimpang sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah di Aceh Tamiang yang tumbuh dari pertemuan Sungai Simpang Kanan dan Sungai Simpang Kiri. Bahkan nama Kuala Simpang diyakini berasal dari pertemuan dua sungai tersebut yang sejak dahulu menjadi jalur perdagangan dan pusat aktivitas masyarakat Melayu Tamiang.
Bagi para pendiri komunitas, sejarah bukan hanya tentang masa lalu, melainkan identitas yang membentuk jati diri sebuah daerah. Karena itu,
Komunitas Napak Tilas Kota Tua Kualasimpang berkomitmen menggelar berbagai kegiatan seperti penelusuran situs sejarah, pengumpulan arsip dan foto-foto lama, diskusi budaya, edukasi kepada pelajar, hingga penyelenggaraan wisata sejarah yang melibatkan masyarakat luas.
Semangat tersebut sejalan dengan berbagai upaya yang berkembang di Aceh Tamiang untuk menjaga eksistensi Kualasimpang sebagai kota tua dan kawasan heritage yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Suasana haru dan penuh optimisme terasa saat deklarasi komunitas dilakukan.
Para peserta yang hadir menyadari bahwa langkah kecil yang mereka mulai hari ini dapat menjadi gerakan besar untuk menyelamatkan warisan sejarah Tamiang.
Di bawah cahaya senja yang mulai menyelimuti Kota Kualasimpang, tekad itu pun diikrarkan bersama:
“Sejarah bukan untuk dikenang sesaat, tetapi untuk diwariskan. Kota tua ini bukan milik masa lalu semata, melainkan milik generasi yang akan datang,” Ujar Mustafa.
Dengan berdirinya Komunitas Napak Tilas Kota Tua Kualasimpang, sebuah harapan baru telah lahir. Harapan agar setiap sudut kota, setiap bangunan tua, setiap aliran sungai, dan setiap kisah para pendahulu tetap hidup dalam ingatan masyarakat Aceh Tamiang.
Karena sesungguhnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jejak langkah sejarahnya. Dan dari Kota Tua Kualasimpang, langkah itu kini kembali dimulai.
(SIP Simanjuntak)



















