Senin, 31 Agustus 2026

Bukan Sekadar Bangun Infrastruktur, Aceh Tamiang Rekam “Cerita Pulih” Pascabencana

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on skype

ACEH TAMIANG, WH — Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali rumah, jalan, dan fasilitas publik yang rusak. Di balik proses rehabilitasi dan rekonstruksi, ada cerita tentang masyarakat yang berjuang memulihkan ekonomi, menata kembali kehidupan, dan membangun harapan.Semangat itulah yang diangkat Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui Workshop Penerbitan dan Fotografi bertema “Cerita Pulih” yang digelar di WD Caffe, Kecamatan Karang Baru, Kamis (27/8/2026).

Mewakili Bupati Aceh Tamiang, Asisten Administrasi Umum Setdakab Aceh Tamiang, Ir. Muhammad Zein, secara resmi membuka kegiatan yang merupakan bagian dari program Ekraf Peduli Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI bertajuk “Cepat Pulih: Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra”.

Sebanyak 70 peserta dari berbagai latar belakang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari insan pers, fotografer, penulis, perwakilan instansi pemerintah serta sejumlah profesi lainnya.

Muhammad Zein mengatakan, fase pemulihan pascabencana memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar pembangunan fisik.

Baca Juga:  Bupati Aceh Tamiang Tinjau Huntara dan Huntap serta Salurkan Sembako bagi Warga Terdampak Bencana

Menurutnya, masyarakat yang terdampak bencana juga membutuhkan pemulihan harapan, aktivitas ekonomi, serta kondisi sosial dan psikologis agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

“Pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali infrastruktur, tetapi juga menyangkut pemulihan harapan, ekonomi dan kondisi psikologis masyarakat,” kata Muhammad Zein.

Karena itu, ia menilai dokumentasi melalui fotografi dan penerbitan menjadi bagian penting dalam merekam perjalanan masyarakat melewati masa sulit tersebut.

Foto, kata dia, mampu menangkap berbagai sisi kehidupan dan proses pemulihan yang belum tentu dapat tergambarkan melalui angka maupun laporan administratif. Sementara karya tulis dan buku dapat menjadi arsip sejarah sekaligus sumber pembelajaran untuk generasi mendatang.

Muhammad Zein pun meminta para peserta tidak sekadar menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi juga mampu menyampaikan pesan yang memiliki dampak bagi masyarakat.

Baca Juga:  Bantu Penderita Gangguan Penglihatan, MGI Gelar Donasi Kacamata Gratis di Towuti

“Gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Serap ilmu dari para narasumber agar karya fotografi dan tulisan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga kekuatan advokasi dan edukasi bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap workshop tersebut menjadi titik awal lahirnya kreator lokal yang mampu mengangkat kisah masyarakat Aceh Tamiang dalam menghadapi bencana dan membangun kembali kehidupan mereka.

Bencana Tak Hanya untuk Diingat, tetapi Didokumentasikan

Dari sisi Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Deputi Bidang Kreativitas Media, Direktorat Penerbitan dan Fotografi, Iman Santosa, mengajak peserta melihat dokumentasi bencana dari perspektif kreatif.

Menurutnya, fotografi dan penerbitan dapat dipadukan untuk menghasilkan karya yang tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan edukasi.

Keterbatasan anggaran, kata Iman, tidak semestinya menghambat kreativitas. Justru dengan kolaborasi dan pemanfaatan kemampuan yang dimiliki para kreator lokal, cerita mengenai proses pemulihan dapat dikemas menjadi karya yang kuat.

Baca Juga:  Berjalan Aman dan Lancar ,Pengadilan Negeri Makale Eksekusi Dua Rumah di Lembang Tombang Langda Kecamatan Sopai Toraja Utara

Ia berharap hasil workshop “Cerita Pulih” nantinya dapat dikembangkan menjadi buku dokumentasi yang merekam perjalanan bencana sekaligus proses masyarakat untuk bangkit.

“Harapannya, hasil workshop ini dapat dikembangkan menjadi buku dokumentasi bencana. Pelatihan lanjutan juga diperlukan agar kemampuan peserta terus berkembang,” ujar Iman.

Workshop tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, insan pers, fotografer dan penulis untuk membangun narasi pemulihan yang lebih dekat dengan realitas masyarakat.

Sebab, ketika pembangunan kembali berbicara tentang angka dan infrastruktur, fotografi dan tulisan memiliki tugas lain: merekam manusia, menyimpan cerita, dan memastikan proses bangkit setelah bencana tidak hilang begitu saja dari ingatan.

Kegiatan turut dihadiri sejumlah Kepala SKPK Aceh Tamiang, narasumber dan fasilitator, insan pers, fotografer, penulis, peserta workshop serta undangan lainnya(SIP Simanjuntak)

BERITA TERKINI