ACEH TAMIANG,WH – Kisah pilu dialami Muhammad Renza, warga Kampung Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. Dijanjikan pekerjaan dengan gaji besar di Australia, Renza justru menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan terlantar hingga ke Madagaskar, Afrika.
Setelah melalui proses panjang, Renza akhirnya kembali ke tanah kelahirannya dan berkumpul bersama keluarga. Ia tiba di rumah pada Sabtu (29/8/2026), setelah mendapat bantuan dari berbagai pihak dalam proses pemulangannya.
Kepulangan Renza mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bersama Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI/BP4MI) Aceh.
Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, bersama sejumlah pihak mengunjungi Renza di kediamannya, Kampung Bukit Rata, Selasa (1/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Armia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pemulangan Renza hingga kembali ke tengah keluarganya.
“Terima kasih kepada Kedutaan Besar di Madagaskar, kemudian kawan-kawan yang ada di NCB Interpol Indonesia di Mabes Polri, serta rekan-rekan di Departemen Luar Negeri. Terima kasih banyak atas bantuannya,” ujar Armia.
Bupati menegaskan, kasus yang dialami Renza harus menjadi pelajaran bagi masyarakat Aceh Tamiang. Ia berharap tidak ada lagi warga yang menjadi korban penipuan berkedok tawaran pekerjaan ke luar negeri dengan iming-iming penghasilan tinggi.
Jangan Mudah Tergiur Gaji Besar
Koordinator BP4MI Aceh Tamiang, Kamaruzzaman, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada pekerja migran Indonesia, khususnya warga yang hendak mencari pekerjaan di luar negeri.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan yang menjanjikan gaji besar tanpa kejelasan mengenai perusahaan, negara tujuan, maupun prosedur keberangkatan.

“Kami dari BP4MI Aceh mengimbau kepada masyarakat Aceh Tamiang, kalau memang nanti mau bekerja ke luar negeri supaya betul-betul mempertimbangkan dan jangan terpengaruh iming-iming gaji besar,” katanya.
Kamaruzzaman meminta calon pekerja migran untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan BP4MI sebelum mengambil keputusan bekerja ke luar negeri.
Masyarakat dapat mendatangi kantor layanan BP4MI yang berada di Dinas Ketenagakerjaan Aceh Tamiang untuk memperoleh informasi mengenai prosedur, persyaratan, serta jalur keberangkatan resmi sebagai pekerja migran Indonesia.
Pemerintah Perkuat Pencegahan TPPO
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Aceh Tamiang, Rafe’i, mengatakan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan BP4MI untuk mencegah semakin maraknya kasus TPPO.
Sesuai arahan Bupati, sosialisasi mengenai bahaya TPPO dan prosedur bekerja ke luar negeri secara resmi akan dilakukan hingga ke tingkat kecamatan.
“Nanti kita akan mengundang para Datok Penghulu dan tokoh-tokoh masyarakat di kecamatan untuk mensosialisasikan maraknya TPPO ini,” kata Rafe’i.
Selain melakukan langkah pencegahan, pemerintah juga berupaya membuka akses pekerjaan luar negeri melalui jalur yang legal dan terjamin.
Saat ini, melalui BP4MI, pemerintah tengah melakukan proses rekrutmen dan pelatihan terhadap 40 calon pekerja migran Indonesia. Mereka dipersiapkan untuk bekerja di sejumlah negara, termasuk negara tetangga dan Arab Saudi.
Pelatihan tersebut berlangsung selama tiga bulan dengan materi yang mencakup peningkatan kompetensi kerja serta kemampuan berbahasa.
Bagi masyarakat yang memiliki kendala biaya keberangkatan, pemerintah juga menyediakan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Aceh.
Dijanjikan Australia, Berakhir di Afrika
Di hadapan pemerintah dan keluarga, Muhammad Renza menceritakan pengalaman yang dialaminya. Ia mengaku awalnya mendapat tawaran bekerja di Australia dengan janji memperoleh gaji besar.
Namun, kenyataan yang dihadapinya jauh berbeda. Bukannya tiba di Australia untuk bekerja, Renza justru berakhir di Madagaskar dan mengalami kondisi terlantar.
Pengalaman tersebut membuatnya meminta masyarakat, terutama generasi muda Aceh Tamiang, agar tidak mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang menawarkan penghasilan tinggi tanpa kepastian dan prosedur yang jelas.
“Untuk teman-teman semua, khususnya di Aceh Tamiang, untuk saat ini jangan percaya pergi ke luar negeri dengan iming-iming gaji besar. Saya adalah salah satu korban penipuan yang diiming-imingi gaji besar dan dijanjikan bekerja di Australia, tidak tahunya ditelantarkan di Madagaskar, benua Afrika,” ungkap Renza.
Renza juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pemulangannya hingga dapat kembali ke Aceh Tamiang dan berkumpul dengan keluarganya.
Sepupu Renza Lebih Dulu Dipulangkan
Kasus serupa juga dialami Melisa Habib, yang merupakan sepupu Renza. Melisa telah lebih dahulu dipulangkan ke Indonesia.
Namun, hingga kini Melisa masih berada di Bogor.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang berharap pengalaman yang dialami Renza dan Melisa menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menerima tawaran pekerjaan ke luar negeri.
Pemerintah mengimbau calon pekerja migran memastikan seluruh proses, mulai dari perekrutan, dokumen, perusahaan penempatan, negara tujuan hingga keberangkatan, dilakukan melalui jalur resmi.
Jangan sampai tawaran gaji besar yang terlihat menggiurkan justru membawa warga pada persoalan yang jauh lebih besar.(SIP Simanjuntak)



















