TANGERANG,WH — Dinamika gerakan buruh di Indonesia membutuhkan sosok pimpinan dan pengurus yang tidak hanya memiliki kemampuan berorganisasi, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, dedikasi, serta keberpihakan terhadap kepentingan anggota.
Semangat tersebut ditegaskan Mardiyanto, tokoh gerakan buruh dari PUK SPTP SPJCC-FSPGI, dalam momentum konsolidasi organisasi di kawasan Tangerang, Sabtu (5/9/2026). Ia menegaskan komitmennya untuk mengabdikan diri bagi anggota, organisasi, serta perjuangan kaum buruh secara luas.
Menurut Mardiyanto, keberadaan serikat pekerja bukan semata-mata sebagai wadah organisasi, melainkan sebagai tempat para pekerja mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta perjuangan atas hak-hak mereka dan kesejahteraan keluarganya.
“Pengabdian Tanpa Pamrih” Bukan Sekadar Slogan
Mardiyanto menilai, semangat “Pengabdian Tanpa Pamrih” yang selama ini digaungkan di lingkungan PUK SPTP SPJCC-FSPGI harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Prinsip tersebut, menurutnya, merupakan komitmen moral yang harus menjadi landasan setiap pengurus serikat pekerja.
“Menjadi pengurus serikat buruh bukanlah ajang untuk berburu jabatan, mengejar popularitas, apalagi mencari keuntungan finansial pribadi,” tegas Mardiyanto.
Ia menekankan, tugas utama pengurus adalah hadir ketika anggota menghadapi persoalan, berani menyuarakan kepentingan pekerja ketika hak-hak mereka diabaikan, serta memastikan perjuangan organisasi memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan pekerja dan keluarganya.
“Pengurus harus hadir secara nyata ketika anggota mengalami masa sulit dan berani bersuara ketika hak-hak pekerja diabaikan. Setiap tetes keringat pekerja untuk kemajuan perusahaan harus mendapatkan penghargaan melalui kesejahteraan yang layak bagi mereka dan keluarga,” ujarnya.
Mardiyanto juga menilai integritas menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan anggota. Menurutnya, organisasi akan semakin kuat dan disegani apabila para pengurus mengedepankan pelayanan, transparansi, keadilan, dan kepentingan bersama.
Komitmen Dibuktikan melalui Perjuangan di Lapangan
Komitmen tersebut, lanjut Mardiyanto, harus dibuktikan melalui berbagai program dan pendampingan yang memberikan manfaat langsung kepada anggota.
Sejumlah agenda perjuangan yang menjadi perhatian di antaranya pendampingan bagi pekerja yang memasuki masa purna bhakti, pengawalan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), pengawasan terhadap penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta penguatan solidaritas antar-Pengurus Unit Kerja (PUK) di bawah naungan FSPGI.
Pendampingan purna bhakti dilakukan untuk memastikan pekerja yang memasuki masa pensiun memperoleh hak-haknya secara layak sesuai ketentuan dan masa pengabdian mereka.
Sementara dalam pengawalan PKB, serikat pekerja berupaya memastikan proses perundingan antara pekerja dan manajemen berjalan secara adil, rasional, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan anggota.
Di bidang K3, pengurus juga didorong untuk aktif mengawasi penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja guna meminimalkan risiko kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.
Selain itu, komunikasi dan koordinasi antar-PUK dinilai penting untuk membangun solidaritas serta menyatukan langkah dalam menghadapi berbagai persoalan ketenagakerjaan.
Tiga Pilar Perjuangan ke Depan
Menghadapi tantangan dunia ketenagakerjaan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan regulasi hingga dinamika industri dan efisiensi tenaga kerja, Mardiyanto menekankan tiga pilar yang perlu menjadi perhatian dalam perjuangan organisasi.
Pertama, pelayanan total tanpa diskriminasi. Setiap anggota memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan, pendampingan, bantuan hukum, dan pengayoman dari organisasi. Karena itu, pelayanan harus diberikan secara adil, transparan, dan tanpa membedakan latar belakang maupun posisi anggota di lingkungan kerja.
Kedua, menjaga marwah organisasi yang independen dan bermartabat. Menurut Mardiyanto, serikat pekerja harus tetap memiliki kemandirian dan mampu memperjuangkan kepentingan anggota secara profesional. Sikap tegas tetap diperlukan, namun harus dibarengi dengan cara-cara yang bermartabat dalam setiap proses komunikasi dan perundingan dengan manajemen maupun pemangku kepentingan lainnya.
Ketiga, memperkuat konsolidasi dan solidaritas lintas PUK. Persatuan menjadi salah satu kekuatan utama gerakan buruh. Dengan memperkuat komunikasi dan koordinasi antar-PUK se-FSPGI, organisasi diharapkan mampu membangun jaringan perjuangan yang lebih solid, bertukar informasi, menyusun strategi bersama, serta memberikan dukungan ketika salah satu PUK menghadapi persoalan industrial.
Pengorbanan Menjadi Bagian dari Perjuangan
Mardiyanto menegaskan, organisasi yang kuat tidak lahir dari kepentingan pribadi, melainkan dari ketulusan dan pengorbanan para pengurus serta anggotanya.
“Organisasi yang kuat dan disegani lahir dari para pengurus yang mau berkorban. Mereka adalah orang-orang yang rela meluangkan waktu dan tenaga, bahkan mengorbankan waktu bersama keluarga demi satu tujuan, yaitu kesejahteraan seluruh anggota dan kemajuan organisasi,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh pengurus, kader, dan anggota PUK SPTP SPJCC-FSPGI untuk terus memperkuat persatuan, merapatkan barisan, serta melanjutkan estafet perjuangan dengan semangat kebersamaan.
“Mari kita lanjutkan estafet perjuangan ini bersama-sama. Tidak ada kata lelah untuk mengabdi, dan tidak ada kata pamrih dalam memperjuangkan hak-hak kaum buruh,” pungkas Mardiyanto.@Yusuf



















